Senin, 09 Juli 2012

idealisme Vs Matrealisme

PANDANGAN FILSAFAT MATREALISME | Juli 28, 2009 PANDANGAN FILSAFAT MATREALISME Oleh: Ading Nashrulloh Menurut aliran filsafat matrealisme, asal, sifat dah hakikat dari semua keberadaan adalah materi. Faham matrealisme tidak mengakui adanya Tuhan. Tidak ada bab tentang Tuhan. Kalau pun ada, maka dicacilah manusia yang percaya kepada Tuhan. Dicaci agama. Aliran matrealisme mengabaikan adanya spiritual. Tidak ada kamus kitab suci, rasul, hari kiamat, malaikat, surga, neraka. Maka tak kenal ibadah doa, dosa, taubat, takwa, tawakal, sabar. Konsep-konsep dosa dan taubat, neraka dan surga datang dari agama. Jadi kalau tidak mau dipusingkan hidup ini oleh urusan dosa dan neraka, tinggalkan saja agama. Karena itu muncul berbagai kritik pada filsafat ini. Adapun kritik yang dilontarkan adalah sebagai berikut : 1. Materialisme menyatakan bahwa alam wujud ini terjadi dengan sendirinya dari khaos (kacau balau). Padahal kata Hegel. kacau balau yang mengatur bukan lagi kacau balau namanya. 2. Materialisme menerangkan bahwa segala peristiwa diatur oleh hukum alam. padahal pada hakekatnya hukum alam ini adalah perbuatan rohani juga. 3. Materialisme mendasarkan segala kejadian dunia dan kehidupan pada asal benda itu sendiri. padahal dalil itu menunjukkan adanya sumber dari luar alam itu sendiri yaitu Tuhan. 4. Materialisme tidak sanggup menerangkan suatu kejadian rohani yang paling mendasar sekalipun. (kuliahfilsafat.blogspot.com/…/idealisme-materialisme.htm) Untuk memahami realitas hakiki dari semua keberadaan dan yang mungkin ada, seseorang boleh dengan cara berfikir yang sederhana seperti penduduk yang terbelakang, boleh juga dengan cara berfikir yang sangat canggih seperti para filsuf untuk sampai pada keyakinan tentang hakikat keberadaan itu. Orang boleh meyakini apa yang menjadi keyakinannya dan meyakinkan keyakinannya kepada orang lain. Seperti syetan dibolehkan Tuhan untuk mengajak sebanyak-banyaknya manusia ke neraka. Tidak ada larangan. Kata boleh, tidak selalu artinya benar. Orang boleh tidak meyakini, boleh menolak dan boleh mencegah suatu pemikiran, keyakinan yang menurutnya salah, sesat. Setiap pemikiran, filsafat, ide, gagasan, dan keyakinan selalu memiliki landasan rasional menurut pemegangnya. Karena itu ia bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya itu. Syetan bertanggung jawab atas pilihannya untuk durhaka pada Tuhan. Lalu orang yang mendurhakai Tuhan karena mengikuti Syetan tidak bisa menyalahkan syetan. Setiap pendurhaka bertanggung jawab atas dosa-dosanya dan dosa orang yang disesatkannya, dengan tidak menanggungkan dosanya kepada orang atau syetan yang mengajaknya pada kesesatan. Yang tercela adalah suatu pemaksaan. Orang-orang yang menganut faham matrealisme boleh menyebarkan pemikiranya. Kata boleh di sini bukan legalitas dari kita. Tetapi dari sunatulloh. Oleh karena itu kita pun boleh mencegah pemikiran penyebaran dan penganutan filsafat matrealisme. Yang tidak boleh adalah kita memaksakan keyakinan kita pada mereka atau mereka memaksakan keyakinan mereka pada kita. Apa guna suatu pemaksaan suatu keyakinan. Kritikan kepada filsafat matrealisme itu, dimaksudkan agar mereka berfikir ulang tentang pemikirannya. Apa benar, Tuhan tidak ada? Kalau Tuhan tidak ada, lalu siapa yang mengatur peredaran air minum yang dimimunya ke seluruh tubuh dengan suatu pengaturan yang teramat rumit? Siapa yang membentuk hidung sedemikian rupa? Jawaban yang mereka kemukan adalah: hukum alam. Ketika ditanyakan lagi apa itu hukum alam, sumbernya, sifatnya, awal mulanya, tempatnya? Kenapa mesti hukum alam yang mengatur semua kejadian di alam? Jawaban mereka…hukum alam, ya hukum alam. Titik. Orang matrelisme mengatakan bahwa keyakinan kepada agama adalah keyakinan dogmatis, tanpa suatu alasan yang rasional dan fakta yang dapat dibuktikan. Ternyata orang matrealisme itu seara terang-terangan mengatakan keyakinanannya pada hukum alam secara dogmatis, tanpa suatu alasan yang rasional dan fakta yang dapat dibuktikan pula. Kalau demikian sama-sama dogmatis lah. Tapi nanti dulu. Apa benar keyakinan pada agama itu dogmatis. Sedangkan keyakinan pada hukum alam itu rasional dan sesuai fakta-fakta? Mari kita cari jawabannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar